Gangguan Berbicara (gagap)
Gangguan Berbicara (Gagap)
Nama : Mia Arfiana
Nim : A1D117023
E-mail : miaarfianaa@gmail.com
PENGANTAR
Gagap merupakan peristiwa
pemberhentian atau penjedaan saat berbicara karena keraguan dalam pelafalan
atau karena takut salah. Gagap ini dapat terjadi pada anak-anak atau pun orang
dewasa. Gangguan gagap dapat terjadi karena tekanan psikologis pada saat awal
pemerolehan bahasa dalam masa perkembangan.
Gagap juga bisa disebabkan oleh faktor neurologis, yang penanganannya harus di
bawa ke dokter agar mendapat pengobatan intensif. Gagap melibatkan gangguan pada
kemampuan untuk bicara lancar dengan waktu yang tepat. Untuk dapat didiagnosis
sebagai gagap, kurangnya kelancaran bicara harus tidak sesuai dengan usia anak.
Gagap biasanya dimulai pada usia antara 2 dan 7 tahun dan terdapat pada sekitar
1 di antara 100 anak sebelum pubertas. (APA, 2000). Penanganan pada gangguan
komunikasi umumnya dilakukan melalui terapi bicara dan konseling psikologis
untuk kecemasan sosial dan masalah-masalah emosional lainnya
PEMBAHASAN
Gagap
merupakan gangguan dalam arus bicara pada anak, yang ditandai dengan adanya
pengulangan suara, suku kata atau terjadi bloking (berhenti) dalam bicara.
(Hidayat, 2007:27).
Gagap
merupakan suatu kondisi dimana pembicara mengalami kekacauan saat berbicara
karena tersendat-sendat, mendadak berhenti, mengulang-ulang suku kata pertama
hingga penderita berhasil berbicara hingga selesai. (Chaer, 2009:153).
Gagap
adalah ganguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. (Minarti, 2010).
Berdasarkan beberapa pendapat ahli dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengertian gagap adalah seseorang yang berbicara dengan
tersedat-sendat dengan mengulang suku kata pertama dan rangkaian kalimat dalam
bicara.
Penyebab terjadinya gagap
Menurut Chaer
(2009:153-154), kegagapan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
a.
Faktor-faktor
stres dalam kehidupan berkeluarga.
b.
Pendidikan
anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak
mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c.
Adanya
kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.
Faktor
neurotik famial.
Gagap ini dapat disebabkan
faktor psikologis anak atau juga disebabkan kelainan neurologis. Gagap
psikologis ini terjadi saat anak mengalami tekanan dari orangtua yang otoriter,
kasar serta keras. Tidak ada dari orangtua saja namun, lingkungan juga ikut
berpengaruh bagi anak seperti dikagetin oleh temannya, ditertawakan temannya.
Maka hal ini akan menjadi bertambah parah untuk psikologi anak. Sedangkan kelainan
neurologis ini yaitu gangguan dalam dominasi serebral. (Hidayat, 2007:27).
Gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun
psikologis. Faktor fisik kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan
ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan
alat bicara, dan keterbatasan lidah. Sedangkan faktor psikologis yaitu
ketagangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap linngkungan, diantaranya
adalah stres mental karena sesuatu yang dirasakan namun tidak mampu untuk dilakukan. (Nujaya, 2013).
Berdasarkan beberapa pendapat
ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab terjadinya gagap adalah adanya
psikologis dan kelainan neurologis. Faktor psikologis ini berkaitan dengan
tumbuh kembang anak, anak akan menjadi gagap bisa dari didikan orangtua yang
terlalu keras, membenta-bentak anak sehingga dapat mengganggu mental anak
menjadi tidak percaya diri dan pendiam. Selain dari orangtua, lingkungan juga
berpengaruh jika anak di buli, ditertawakan, di kagetkan dengan temannya yang
akan berdampak pada psikologi anak menjadi tambah parah. Sedangkan faktor
neurologis ini disebabkan oleh adanya gangguan pada otak, saraf dan otot yang
terlibat dalam kemampuan berbicara. Hal ini disebabkan oleh kecelakaan maupun
penyakit tertentu, misalnya disleksia. Anak yang disleksia sering kali juga
mengalami gagap, jika masalah utamanya hilang maka anak tersebut secara
otomatis gangguan bicaranya juga hilang.
Solusi mengatasi kasus gagap
Gagap tidak akan berlanjut sampai dewasa
apabila anak segera diterapi dengan baik. Selain itu, dukungan dari lingkungan
keluarga dan sekitarnya juga menjadi faktor penting dalam usaha penyembuhan
gangguan gagap ini. Jika kanak-kanak dalam kurun waktu yang cukup lama masih
menunjukkan kegagapannya dalam berbicara, maka diperlukan adanya konsultasi
dengan ahli, baik itu dokter syaraf untuk mengetahui kerusakan pada bagian
syaraf tertentu, atau dengan psikolog untuk mengatasi masalah kecemasan yang dimiliki
anak. (Nurjaya, 2013).
Para penderita gagap berpikir
dengan gerakan menggerakkan kaki, tangan, atau mengerjapkan mata pada saat
berbicara dapat membantu mengurangi kegagapannya. Ada juga silence treble
dengan ciri si penderita sudah membentuk suatu pola pada mulutnya tapi tidak
keluar suara. (Chairani dan Nurachmi,2005: 18).
Dari pendapat beberapa ahli
dapat ditarik kesimpulan bahwa solusi mengatasi gagap adalah keluarga dapat
memberikan dukungan buat anak sehingga anak menjadi tenang dan percaya diri. Ketika
anak gagap ketika berbicara, orangtua jangan langsung bereaksi negatif dengan
membentak maupun berkata kasar dengan anak sehingga anak akan merasa nyaman.
Selain itu gagap pada anak harus segera dilakukan terapi agar gagap tidak
berlanjut sampai dewasa. Konsultasi dengan ahli perlu dilakukan jika anak masih
menunjukkan gagapnya ketika berbicara, tujuannya untuk mengetahui apakah ada
kerusakan pada otak, saraf ataupun pada otot anak.
DAFTAR PUSTAKA
Aliah Sarifah. 2013. Studi Kasus Pada Taman
Kanak-kanak Yang Mengalami Hambatan Berbicara. Universitas Pendidikan
Indonesia.
Indah, Rohmani Nur. 2017. Gangguan Berbahasa. UIN-Maliki
Press.
Supendi, Deden Ahmad dan Setiadi, David. 2014.
Analisis Kasus dan Penyebab Gangguan
Berbahasa (Language Disorders). Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Komentar
Posting Komentar